Hati berpikir "maafkan dia"
Akal berbicara " dia tak pantas kumaafkan"
namun bibir ini seyogianya berucap
"aku mengampunimu"
waktu yang tidak bisa ditolak datangnya
membuktikan Ia pantas di benci
karena jahatnya, karena culasnya
bertambah subur dan menggila
Ketika wanita yang 9 bulan memberi rahimnya kudiami
menangis lirih karena hempasannya di tanah
waktu jemari kecilku dengan gemetar merangkul dan memeluknya
Doaku aku cepat besar
doaku beri dia si penghempas umur panjang
doaku aku menjadi lebih kuat darinya
doaku dengan tanganku kuhempaskan dia
seperti hari ini, seperti saat ini
Lalu suara bisikan lembut ditelinga
"anakku, maafkan dia" bergema tiada henti
seakan tau masa depanku kelak akan berakhir seperti apa
Lalu dengan linangan air mata
kuikuti otakku,
hatiku perih mendorong bibirku berucap
"aku mengampunimu Ayah"
bukan untuk mu, tapi untukku
agar anakku kelak tak berdoa seperti doaku
Jayapura, 2007
Note: Saat menuntun anak kecil berdoa mengampuni papanya
puisi satire
Kamis, 23 April 2015
Takdir anak pemabuk
Tampak cakrawala jingga menyapa
bocah riang terus bercengkrama dengan riak air
baginya itulah pemuas jiwa
senyum dan tawa merekah begitu saja
lalu senja luruh ditanah kaya ini
kaki kecil kurus dan lapar kuat terasa
saat tubuh mulai dingin gemetar
masih tak sanggup rampas bahagia ini
Hembusan bayu menggelitik
sibocah tau waktunya menyimpan senyum
ketika dunia tawanya berubah muram
ketika tiba diistana gubuk deritanya
Bocah bermimpi hidup seindah langit
sesejuk angin sepoi-sepoi
lalu gigitan nyamuk seolah menyadarkannya
itu bukan miliknya
Karena aroma wangi nan sejuk
berganti bau pengap dan kecut
menguasai bilik mungilnya
menguasai gelisah hatinya
lalu mimpi itu luluh lantah
pergi bersama suara jangkrik
yang berlomba dengan nada dengkuran pemabuk
yang takdirnya di panggil Ayah.
Jayapura, 21 April 2015
bocah riang terus bercengkrama dengan riak air
baginya itulah pemuas jiwa
senyum dan tawa merekah begitu saja
lalu senja luruh ditanah kaya ini
kaki kecil kurus dan lapar kuat terasa
saat tubuh mulai dingin gemetar
masih tak sanggup rampas bahagia ini
Hembusan bayu menggelitik
sibocah tau waktunya menyimpan senyum
ketika dunia tawanya berubah muram
ketika tiba diistana gubuk deritanya
Bocah bermimpi hidup seindah langit
sesejuk angin sepoi-sepoi
lalu gigitan nyamuk seolah menyadarkannya
itu bukan miliknya
Karena aroma wangi nan sejuk
berganti bau pengap dan kecut
menguasai bilik mungilnya
menguasai gelisah hatinya
lalu mimpi itu luluh lantah
pergi bersama suara jangkrik
yang berlomba dengan nada dengkuran pemabuk
yang takdirnya di panggil Ayah.
Jayapura, 21 April 2015
Langganan:
Komentar (Atom)