Kamis, 23 April 2015

Mengampuni

Hati berpikir  "maafkan dia"
Akal berbicara " dia tak pantas kumaafkan"
namun bibir ini seyogianya berucap
"aku mengampunimu"

waktu yang tidak bisa ditolak datangnya
membuktikan Ia pantas di benci
karena jahatnya, karena culasnya
bertambah subur dan menggila

Ketika wanita yang 9 bulan memberi rahimnya kudiami
menangis lirih karena hempasannya di tanah
waktu jemari kecilku dengan gemetar merangkul dan memeluknya

Doaku aku cepat besar
doaku beri dia si penghempas umur panjang
doaku aku menjadi lebih kuat darinya
doaku dengan tanganku kuhempaskan dia
seperti hari ini, seperti saat ini

Lalu suara bisikan lembut ditelinga
"anakku, maafkan dia" bergema tiada henti
seakan tau masa depanku kelak akan berakhir seperti apa

Lalu dengan linangan air mata
kuikuti otakku,
hatiku perih mendorong bibirku berucap
"aku mengampunimu Ayah"
bukan untuk mu, tapi untukku
agar anakku kelak tak berdoa seperti doaku

Jayapura, 2007

Note: Saat menuntun anak kecil berdoa mengampuni papanya

Takdir anak pemabuk

Tampak cakrawala jingga menyapa
bocah riang terus bercengkrama dengan riak air
baginya itulah pemuas jiwa
senyum dan tawa merekah begitu saja

lalu senja luruh ditanah kaya ini
kaki kecil kurus dan lapar kuat terasa
saat tubuh mulai dingin gemetar
masih tak sanggup rampas bahagia ini

Hembusan bayu menggelitik
sibocah tau waktunya menyimpan senyum
ketika dunia tawanya berubah muram
ketika tiba diistana gubuk deritanya

Bocah bermimpi hidup seindah langit
sesejuk angin sepoi-sepoi
lalu gigitan nyamuk seolah menyadarkannya
itu bukan miliknya

Karena aroma wangi nan sejuk
berganti bau pengap dan kecut
menguasai bilik mungilnya
menguasai gelisah hatinya

lalu mimpi itu luluh lantah
pergi bersama suara jangkrik
yang berlomba dengan nada dengkuran pemabuk
yang takdirnya di panggil Ayah.


Jayapura, 21 April 2015