Hati berpikir "maafkan dia"
Akal berbicara " dia tak pantas kumaafkan"
namun bibir ini seyogianya berucap
"aku mengampunimu"
waktu yang tidak bisa ditolak datangnya
membuktikan Ia pantas di benci
karena jahatnya, karena culasnya
bertambah subur dan menggila
Ketika wanita yang 9 bulan memberi rahimnya kudiami
menangis lirih karena hempasannya di tanah
waktu jemari kecilku dengan gemetar merangkul dan memeluknya
Doaku aku cepat besar
doaku beri dia si penghempas umur panjang
doaku aku menjadi lebih kuat darinya
doaku dengan tanganku kuhempaskan dia
seperti hari ini, seperti saat ini
Lalu suara bisikan lembut ditelinga
"anakku, maafkan dia" bergema tiada henti
seakan tau masa depanku kelak akan berakhir seperti apa
Lalu dengan linangan air mata
kuikuti otakku,
hatiku perih mendorong bibirku berucap
"aku mengampunimu Ayah"
bukan untuk mu, tapi untukku
agar anakku kelak tak berdoa seperti doaku
Jayapura, 2007
Note: Saat menuntun anak kecil berdoa mengampuni papanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar