Kamis, 23 April 2015

Takdir anak pemabuk

Tampak cakrawala jingga menyapa
bocah riang terus bercengkrama dengan riak air
baginya itulah pemuas jiwa
senyum dan tawa merekah begitu saja

lalu senja luruh ditanah kaya ini
kaki kecil kurus dan lapar kuat terasa
saat tubuh mulai dingin gemetar
masih tak sanggup rampas bahagia ini

Hembusan bayu menggelitik
sibocah tau waktunya menyimpan senyum
ketika dunia tawanya berubah muram
ketika tiba diistana gubuk deritanya

Bocah bermimpi hidup seindah langit
sesejuk angin sepoi-sepoi
lalu gigitan nyamuk seolah menyadarkannya
itu bukan miliknya

Karena aroma wangi nan sejuk
berganti bau pengap dan kecut
menguasai bilik mungilnya
menguasai gelisah hatinya

lalu mimpi itu luluh lantah
pergi bersama suara jangkrik
yang berlomba dengan nada dengkuran pemabuk
yang takdirnya di panggil Ayah.


Jayapura, 21 April 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar