Tampak cakrawala jingga menyapa
bocah riang terus bercengkrama dengan riak air
baginya itulah pemuas jiwa
senyum dan tawa merekah begitu saja
lalu senja luruh ditanah kaya ini
kaki kecil kurus dan lapar kuat terasa
saat tubuh mulai dingin gemetar
masih tak sanggup rampas bahagia ini
Hembusan bayu menggelitik
sibocah tau waktunya menyimpan senyum
ketika dunia tawanya berubah muram
ketika tiba diistana gubuk deritanya
Bocah bermimpi hidup seindah langit
sesejuk angin sepoi-sepoi
lalu gigitan nyamuk seolah menyadarkannya
itu bukan miliknya
Karena aroma wangi nan sejuk
berganti bau pengap dan kecut
menguasai bilik mungilnya
menguasai gelisah hatinya
lalu mimpi itu luluh lantah
pergi bersama suara jangkrik
yang berlomba dengan nada dengkuran pemabuk
yang takdirnya di panggil Ayah.
Jayapura, 21 April 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar